Terapi Pulang Kampung (a.k.a Mudik)

Selamat bersilaturrahmi…………

Kita akan melihat fenomena arus mudik (pulang kampung/pulkam) yang padat, para penumpang berdesakan, wajah-wajah yang terseok karena kelelahan dan mata yang berbinar-binar karena kembali ke kampung halaman pada hari lebaran. Dalam suasana lebaran mulai dari mudik, ziarah kubur, silaturahmi khusus lebaran memang bukan termaktub dalam Al-quran dan Hadist, melainkan ini hanyalah tradisi lebaran di negeri ini.

Dalam hal ini mari kita lihat makna mudik dari sisi positifnya terutama sekali dalam hubungannya dengan dampak modernisasi.
Kota-kota besar di negeri ini diibaratkan sebuah rumah sakit jiwa yang besar. Semua orang sakit akibat dari kejenuhan rutinitas di era  modernisasi sehingg diperlukan penyembuhan massal dan terapi yang membikin orang lebih manusiawi.

Mereka harus diasah perasaannya  dan dilunakkan dari jiwa semangat materialisme menjadi jiwa kekeluargaan yang spiritual, dan dari mengambil kepada memberi. Tidak jarang barang-barang kesukaannya dan kebanggaannya dibagikannya kepada sanak saudaranya tak terkecuali jutaan rupiah tabungan miliknya didermakannya, dan ini menjadi kepuasan jiwa tersendiri utk membahagiakan keluarga di kampung.

Itulah pentingnya mudik yang merupakan suatu keniscayaan bagi bangsa yang mejemuk. Dengan mudik  orang-orang sudah dipastikan
merasakan jiwanya merasa plong dan lapang  dari perasaan hiruk pikuk kota. Mereka ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung, sebagai rasa cinta dan kasih sayang serta tali kasih sesaudara.

Mereka ingin memperoleh keteduhan jiwa dan menjauh sementara dari kepenatan kesibukan kerja. Mereka ingin meninggalkan wajah-wajah kota yang garang untuk kembali menikmati wajah-wajah kampung yang ramah, walaupun hanya dalam hitungan hari.
Mereka ingin kembali mengungkapkan perasaaan keluarga yang menyejukkan. Maka kita akan melihat seorang anak bersimpuh dihadapan orang tuanya sambil meneteskan air mata, seraya memohon maaf. Begitu juga ketika mereka bersimpuh di makam kedua orang tua dan leluhurnya membacakan ayat-ayat Al Quran dan menadahkan doa, gematar rasanya tangan dan terserembab berlinangan air mata semuanya terbayang ketika kedua orang tua, kakek nenek hidup dimasa kecil.

Suami istri menjalin kembali cinta kasih mereka, setelah setahun penuh menjadi orang-orang asing  yang tidak saling mengenal. Para tetangga dan sahabat saling menegur dan saling memberi setelah setahun mereka saling bersaing dan saling memeras. Inilah makna silaturahmi dan silaturahmi tidak hanya ditujukan kepada orang yang masih hidup tetapi juga kepada orang-orang yang sudah mati. Orang-orang yang sudah mati mencerminkan masyarakat lama yang sudah hilang, mereka mewakili masa lalu.

Mudik, ziarah kubur dan silaturahmi, adalah kreasi bangsa yang menakjubkan, itu berfungsi sebagai terapi buat masyarakat modern.
Mudik bukan hanya semata-mata hiburan tetapi juga terapi massal yang tidak membebani pemerintah.

Pada tafsir Ibnu Katsier tercatat sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Jarir, Raslullah SAW bersabda, “Nanti di hari kiamat diantara hamba-hamba Allah ada sekelompok orang yang mendapat tempat istimewa di surga, mereka itu bukan para Nabi juga bukan Syuhada, malah para Nabi dan Syuhada tertarik dengan kedudukan mereka di sisi Allah pada hari kiamat. Mendengar pernyataan seperti para sahabat semangat untuk bertanya, ‘Yaa Rasulullah, manusia macam apakah yang akan mendapat tempat istimewa di surga?’ Nabi tidak menyebut nama juga kelompok, tapi menyebutkan sifat. Mereka yang akan mendapatkan tempat istimewa di surga adalah yang ketika hidupnya di dunia saling mencintai, menyayangi dengan dasar karena Allah (keimanan, keislaman dan ketakwaan) bukan karena ikatan harta atau keturunan.”

Namun yang lebih penting dengan pulang kampung/pulkam jelas bukan hanya sebatas berkumpulnya kembali dengan keluarga dan saling memperkokohkan kembali hubungan kekerabatan, tapi bagaimana untuk memperkokohkan kualitas keimanan dan ketakwaan dalam keluarga.

Semoga bermanfaat,
Salam takdzim

oleh : Burhanudin Qaudry
dari milis Vilanusaindah

http://www.ocidbrass.com

One Response to Terapi Pulang Kampung (a.k.a Mudik)

  1. sprei murah says:

    thanks for useful info and good

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *