Dan Dijadikan-NYA Gunung-Gunung Sebagai Pasak

Di dalam Surat An-Naba ayat 6-7 (QS 78:6-7), Allah SWT berfirman yang artinya kurang lebih :”Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?

Mengapa di ayat tersebut Allah menyebut gunung sebagai pasak? Apakah sebenarnya pasak itu ?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia – Balai Pustaka, bahwa Pasak itu adalah sesuatu seperti paku tetapi terbuat dari kayu. Sebagai umumnya pasak, pasak fungsinya adalah untuk ditancapkan ke sesuatu agar sebagai alat peneguh atau pengikat. Artinya material pasak pastinya berbeda dengan material yang ditancapi-nya.

Pasak secara bentuk akan memiliki dua permukaan. Yang satu adalah permukaan yang berada di bagian atas (bagian yang terlihat), dan satu lagi adalah bagian yang di dalam (yang tertancap). Berdasarkan ilmu Geologi modern ternyata terungkap bahwa suatu gunung, ternyata memiliki bagian yang berada di dalam permukaan tanah sebesar hampir mencapai 2/3 dari ukuran gunung keseluruhan. Artinya, gunung yang kita lihat sehari-hari menjulang diatas permukaan tanah tersebut ternyata hanyalah 1/3 ukuran gunung tersebut yang sesungguhnya. Dapatkah anda membayangkannya ?

Selain itu pasak juga berfungsi untuk menjaga agar material yang ditancapinya kokoh, tidak bergoyang-goyang. Ilmu geologi modern juga mengungkapkan bahwa Bumi ini terdiri dari lempengan-lempengan yang diantara mereka dapat terjadi pergeseran-pergeseran. Adanya gunung yang memiliki akar jauh sampai kedalam tanah tersebutlah yang mencegah goyangnya tanah dan menstabilkan kerak bumi. Maka di ayat yang lain Allah SWT berfirman :
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl, 16:15).

Jika ilmu pengetahuan modern baru bisa mengungkapkan fenomena ini di paruh abad ke-19, maka ternyata Al-Qur’an sudah memberitahukan mengenai hal ini 14 abad yang lalu. Maka, masihkan manusia tidak berfikir akan siapa dirinya?

Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

Wallahu A’lam Bissawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *