Berfikir Positif Dari Sudut Pandang Ilmiah dan Agama

Berfikir positif. Tak pelak, hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi seorang manusia. Hal ini bukanlah dikarenakan berpikir positif itu adalah sesuatu yang dianjurkan. Bahkan justru lebih dari itu. Berpikir positif justru merupakan suatu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi baik itu oleh raga manusia, terlebih lagi jiwa manusia. Hal ini dikarenakan tiada lain otak manusia itu hanya akan berpikir terhadap dua arah, berpikir positif ataukan berpikir negatif. Jika otak manusia dibiarkan kosong dari berpikir positif, maka sudah tentu otak tersebut akan diisi oleh pikiran negatif.
Dalam karya Jack Canfield dan MarkViktor Hansen yang berjudul Aladdin Factor, disebutkan bahwa manusia setiap harinya menghadapi kurang lebih 60.000 pikiran. Ini bukanlah sesuatu hal yang dapat dianggap sepele. Bayangkan jika mayoritas pikiran tersebut mengarah kaarah hal yang positif, tentu akan menjadi sesuatu kekuatan yang menakjubkan. Namun demikian pula sebaliknya. Jika pikiran tersebut mayoritas mengarah ke negatif, tentunya akan menjadi penghambat yang luar biasa pula pada diri manusia.

Penelitian di Fakultas Kedokteran San Fransisco pada tahun 1986 menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Jika dilihat dari sudut pandang agama, hal ini karena manusia dibekali oleh hawa nafsu oleh Alloh SWT. Dan hawa nafsu itu sendiri memiliki kecenderungan ke arah negatif sebagaimana dapat dilihat di Surat Yusuf ayat 53 yang artinya kurang lebih : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh TuhanKu. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Bagi yang pernah membaca atau menonton “The Secret”, mungkin cukup familiar dengan istilah “Law Of Attaraction” (LOA) atau diterjemahkan bebas menjadi “Hukum Ketertarikan”. Dalam LOA dikatakan bahwa kita menjadi magnet hidup yang menarik situasi , orang dan gagasan dalam kehidupan kita selaras dengan hal yang dominan dalam pikiran kita. Dikatakan bahwa pikiran kita membentuk suatu energi yang kuat di sekitar kita yang akan menarik segala sesuatu di sekitar kita sehingga pikiran tersebut selaras dengan kehidupan kita.
Hukum daya tarik ini sendiri bersifat netral. Jika ia bersifat positif, maka ia akan membentuk suatu energi yang mendorong ke arah positif. Sebaliknya jika pikiran kita bersifat negatif, maka energi tarik tersebut akan mendorong atau menarik ke arah negatif.

Dari sudut pandang agama, sebuah hadits Qudsi artinya kurang lebih “ Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku tentang Aku”. Di hadits ini tersirat bahwa jika kita memang berprasangka baik yang dalam hal ini berarti berpikir positf, maka Alloh akan mengabulkan hal yang baik pula kepada hamba-Nya. Sebaliknya jika kita ber-prasangka negatif atau dalam hal ini berpikiran negatif, maka Alloh juga akan mengabulkan sebagaimana yang dipikirkan atau disangkakan oleh hamba-Nya.

Suatu pelajaran dasar di kalangan sufi adalah bahwa mereka haruslah berusaha membersihkan diri mereka dari ber-suudzan atau berburuk sangka dan sebaliknya selalu ber-husnudzan atau berbaik sangka. Ajaran ini bukanlah merupakan suatu ajaran enteng karena ajaran ini diperintahkan oleh Dia yang menciptakan manusia sehingga sudah tentu si Pencipta akan lebih paham kondisi ciptaan-Nya dibandingkan dengan mahluk ciptaan itu sendiri. Dan ternyata memang ilmu pengetahuan modern membuktikan ternyata bahwa pikiran menjadi suatu dasar dalam cara bersikap dan kebiasaan yang dilakukan oleh manusia.

Wallahu ‘alam bissawab

http://www.ocidbrass.com

One Response to Berfikir Positif Dari Sudut Pandang Ilmiah dan Agama

  1. bener nih..
    Lawm of attraction perlu diterapkan dlm kehidupan sehari2..
    kalo kita berkata bisa,bisa, dan bisa..
    insya Allah kita bnar2 bisa melakukanny 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *